Senin, 27 April 2009

Jawa Ilang Jawane

Identitas suku Jawa, boleh jadi akan hilang pada suatu saat lagi. Akhir-akhir ini penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu mungkin dinilai tidak populer lagi, ketinggalan zaman, ndeso. Buktinya, di pelosok desa saja sekarang banyak keluarga yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Menyedihkan memang.
Banyak anak muda apalagi anak-anak yang sudah tidak kenal lagi dengan kiroto boso, paribasan, nama-nama bunga, anak hewan. Juga sudah kesulitan untuk berbahasa krama, sudah kurang pemahamannya tentang klasifikasi bahasa Jawa yang terdiri dari bahasa Ngoko, Krama, Krama Madya dan Krama Inggil. Juga sudah kebingungan menggunakan bahasa Jawa yang tepat.
Padahal, bahasa Jawa termasuk strategi budaya supaya yang muda selalu menghormati yang tua, yang rakyat menghormati pejabat, yang anak menghormati orang tua.. Bahasa menjadi barier meletupnya konflik.
Dalam budaya Jawa juga ada unggah-ungguh, budipekerti, sopan santun.Suatu sikap yang mengatur hubungan dengan sesama, dengan orangtua, dengan pemimpin. Misalnya, dulu bersepeda di pelataran atau pekarangan orang lain dinilai sebagai perbuatan tidak sopan. Melintas di depan orang duduk tanpa menundukkan kepala dan merendahkan badan, juga tidak sopan dan masih banyak lagi perilaku sopan santun lainnya yang sekarang sudah nyaris tidak ada yang melakukan lagi.
Parahnya lagi, pendidikan budi pekerti sudah dianggap tidak penting lagi bagi dunia pendidikan formal, terbukti mata pelajaran budi pekerti sudah dinomor sekian....
Sekarang gedung parlemen sudah biasa untuk cekcok mulut, bahkan adu jotos. Ini menjadi referensi bagi anak muda maupun anak-anak, bahwa cara-cara bermusyawarah dengan mengesampingkan sopan santun merupakan hal biasa dan boleh dilakukan.
Tidak tahu mau dikemanakan masa depan anak-anak kita.